Gumuk Pasir Parangkusumo yang dulu sepi, tandus, dan
gersang, kini hilang.
Sekarang, di kanan kiri jalan ramai mobil dan motor
parkir, pengunjung menyebar hampir ke seluruh bagian – mereka bermain sand
sliding, beberapa berenang diatas pasir, loncat-loncatan, berendam didalam pasir, dan sebagainya dan sebagainya.
Juga sudah tidak setandus dulu, karena dibeberapa bagian
oleh Pemerintah ditanami pohon-pohon cemara.
Angin yang biasanya menghembus dan
membuat kontur diatas pasir terjebak diantara cemara hingga semakin sedikit
pasir yang bergsmuk.
Kami kesana dengan membawa kenangan yang lalu, terbelalak
melihat perubahannya.
Sebagian besar keindahan gumuk pasir hilang.
Gelombang2
pasir dengan gumuk2 seksi susah dicari sekarang, karna kebanyakan ada cap
sepatu diatasnya…ha..ha.
Tidak adalagi gundukan pasir sambung menyambung atau
saling bertumpukan – gundukan pasir sudah menjadi semak tanaman.
Setelah matahari terbenam, warung2 dipinggir jalan berpedar lampu merah, dan dipintu berdiri wanita
berbaju ala longdress merah…duh!
Bila tempat ini sekarang hidup karna pariwisata, betapa bersyukurnya, penduduk mengenyam rejeki, tapi bukan harusnya dengan wisata remang-remang toh?
Berita baiknya adalah katanya: cemara2 yang
rindang itu akan dicabut, agar gumuk pasir terbentuk lagi oleh angin,
rupanya mereka mulai sadar bahwa GUMUK PASIR itu indah, dan kami kesana untuk Gumuk Pasir.
Sudahlah,
kali ini lupakan Gumuk pasir yang dulu …, dia
tinggal kenangan didalam harddisk.. kita kenang saja dengan membuka foto-foto lama kembali…..


