![]() |
| dibalik alat tenun |
Kami
berjalan membelah sawah, menyusuri sengkedan-sengkedan, bertegur sapa dengan
penduduk lokal yang berpapasan selagi
menuju lokasi Kampung tenun di desa
Panauan.
![]() |
| berteguran sapa dengan penduduk |
Di
lokasi penenunan kita menyaksikan bagaimana selembar kain di hasilkan, dimulai
dari memintal benang-benang sutra, menganyamnya satu persatu sehingga jadikan
selembar kain.
![]() |
| Add caption |
Usaha
tenun Panawuan ini merupakan tenunan Binaan Pemerintah, dalam hal ini kerja sama Cita Tenun Indonesia (CTI) dan
Perusahaan Gas Negara (PGN) yang diresmikan tahun 2012
Baru
terasa nyata sekarang ketika mata kepala melihat hasil dan perubahan nasib yang
diciptaan oleh Binaan-binaan seperti ini.
Garut
dulunya sudah terkenal sebagai penghasil sutra, Industri pertama sutera alam
Garut di pelopori oleh Bapak H. Aman Sahuri yang membudidayakan ulat sutera
sebagai bahan sarung tenun. Dan tenun ikat Garut sudah ada sejak tahun 1960
yang menyebabkan tenun ikat beraneka warna mulai berkembang di Garut.
Namun
di tahun 19802 tenun Garut memudar karena persaingan dengan Batik – khususnya
Batik Garut sendiri – sehingga pengrajin tenun ini malah beralih fungsi untuk
memproduksi kain katun polos putihan (kain Mori) yang menjadi bahan dasar batik.
Di
tahun 2011 Komunitas Cita Tenun Indonesia (CTI) bersinergi dengan Perusahaan
Gas Negara membantu mengangkat tenun
Garut ini dengan memberikan pelatihan dan pengembangan kepada pengrajin Tenun Garut dan Majalaya dengan tujuan antara lain agar bagaimana pengrajin bisa
menentukan harga yang layak dan mengetahui selera pasar.
Pembagian
tugas dilakukan : Cita Tenun Indonesia (CTI) yang melatih para pengrajin, dan Perusahaan
Gas Negara (PGN) bertindak sebagai “bapak angkat” atas program Kampung Tenun
Garut.
Binaan
terhadap para pengrajin tenun melaui
Program Kemitraan dan Bina Lingkungan , “workshop” di renovasi ,penyediaan
mesin dan ruang galeri guna memperlancar proses produksi, meningkatkan
kualitas, serta upaya menarik minat pengunjung dan wisatawan.
Semua
itu berdampak nyata dan positif bagi pengrajin tenun ini , pengrajin bangkit,
dan ekonomi rakyat terbangun, salah satu buktinya adalah peningkatan harga kain
tenun di Garut. Jika sebelumnya harga kain tenun Rp 150.000 per meter, saat ini
harganya meningkat menjadi Rp 500.000 per meter.
![]() |
| memintal benang |
proses pembuatan kain tenun ikat di
Kampung Tenun khususnya di Sutera Alam Family masih menggunakan alat
tenun tradisional yaitu alat tenun bukan mesin (ATBM). Proses pembuatannya itu
terbagi kepada dua tahapan.
![]() |
| kain diikat satu persatu sesuai motif |
![]() |
| dibalik mesin pintal |
Pertama adalah tahap persiapan menenun yang disebut
gumingan yaitu proses pemasak benang sutera untuk menghilangkan resin
yang terdapat pada benang sutera. Proses yang kedua adalah proses menenun yang
dibagi menjadi dua bagian sebelum menenun, proses tersebut yaitu proses
pembuatan benang lungsi dan pakan. Ide/gagasan pembuatan ornamen ini diambil
dari alam sekitar di wilayah Kabupaten Garut dan yang menjadi ciri khas Garut.
Dilihat dari jenis ornamen yang diteliti adalah jenis ornamen Wajik, Etnik
modifikasi NTT, Bali dan
Kalimantan, Bunga Puspa, Bunga Tapak Dara, Bunga
Gambir, Bunga Kusuma, Burung Bangau, Sumping, Etnik Garut dan Ukel
modifikasi Kalimantan.
Ornamen yang tampak pada Kampung Tenun adalah ornamen
geometris dan non geometris serta terdapat ornamen modifikasi dari daerah lain.
Para penenun sutra alam
Garut sekarang masih mengandalkan pasokan bahan baku yang didatangkan dari Cina
, keterbatasan bahan baku ini lah yang membuat mereka tidak bisa mengakomodasi
pesanan-pesanan dalam jumlah besar , katanya Saat
ini pemerintah masih mempelajari agar bahan dasar benang sutera alam Garut
dapat kembali diproduksi.
Saya tersentuh oleh
Pembina-pembina dalam membantu dan
meningkatkan ekonomi pengrajin, dan
terharu pada dedikasi pengrajin menciptakan kain-kain cantik ini dengan proses
panjang.
Amat
layak bila tenun-tenun ini menjadi pilihan kita, desain dan warnanya keren,
semburat NUSANTARA JELAS DISITU, dan ada perjuangan serta peluh saudara-saudara
setanah air yang menciptakan karya-karya cantik ini.
Teringat
moto: “Saya cinta buatan Indonesia”



























