IG @upiurfiani


Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn't do than by the ones you did do.
So throw off the bowlines,
sail away from the safe harbour.
Catch the trade winds in your sails.
Explore. Dream. Discover.
- Mark Twain

Sabtu, 08 November 2014

Ada Merak sedang Menari di selembar Batik Garut



Merak Ngibing sedang di lukis
Di satu kesempatan saya pernah mengunjungi Produsen Batik Garut yaitu Garutan RM, ditemui oleh Ibu Aan dan beliau mengajak melihat workshopnya dan bercerita tentang Batik Garutan ini dengan semangat.
Merak menari/ Merak Ngibing

Mereka menyebut Batik asal Garut ini dengan Batik Garutan.

Kegiatan dan usaha pembatikan di Garut merupakan warisan nenek moyang yang berlangsung turun temurun dan telah berkembang lama sebelum masa kemerdekaan. Pada tahun 1945 Batik Garut semakin popular dengan sebutan Batik Tulis Garutan dan mengalami masa jaya antara tahun 1967 s.d. 1985.
ditemani jarum super

Sekilas, motif Batik Garutan ini di dominasi dengan motik geometris , dan ada terlihat pengaruh Solo Yogya seperti motif lereng atau parangdan  Bentuk geometrik umumnya mengarah ke garis diagonal dan bentuk kawung atau belah ketupat. Namun sebenarnya motif-motif batik ini jauh lebih luas dari itu, motif-motif kebanggaannya adalah motif Merak Ngibing, Rareng Barong, Limar Eneng Segi Dodol, Kembang dan Kalajengking, Lereng Kecil, Parang, Rotan Matahari, Domba Garut Batik.
rareng barong

Ibu Aan juga bercerita perbedaan design-design Garut dan Tasikmalaya, dan sulitnya  untuk mempatenkan motif-motif tersebut menjadi Motif khas Garut.

Sebagai orang umum, saya dapat mengerti bahwa motif-motif tersebut susah dipatenkan – ke khasannya amat tipis – bagi saya Batik Garut, Batik Tasikmalaya, Batik Cirebon, dan batik Priangan lainnya amat mirip motifnya satu sama lain – mereka di lukis dan diwarnai oleh keceriaan dan umumnya menggunakan motif-motif Burung menari dan motif-motif yang di klaim Garut sebagai motifnya juga.
anak muda pun sudah mau membatik lagi

Di Priangan  sebuah kain dihias dengan bebas sesuai dengan rasa dan gambar-gambar flora fauna yang ada dialam sekitar dan alam sekitarnya, karna itu mereka  amat mirip satu sama lain , yaitu Tanah Pasundan– tidak ada filosofi yang dalam seperti halnya batik-batik Solo dan Jogja – tidak ada tingkatan/ kasta pemakai – tidak ada batasan acara yang menentukan kapan dan dimana batik-batik itu selayaknya dipakai – batik-batik Priangan memang menunjukkan jati dirinya dan menunjukkan stereotip masyarakat Sunda yang terbuka, periang dan flamboyant – dengan warna-warna cerah – dan seni yang terpapar di selembar kain itu menjadi seni yang bercerita dan dinikmati oleh siapa saja kapan saja dan dimana saja.

Namun  perbedaan tipis itu mengagumkan, Di selembar kain, terlihat dan terbukti bahwa setiap daerah memiliki karakter nya sendiri-sendiri, hanya dengan berbeda gunung, berbeda sungai, berbeda mata angin, motif dan warna juga tercipta berbeda.

Katanya Ciri Khas utama dari Batik Garut dibanding Batik2 Tasik , Cirebon adalah dalam segi warna – Batik Garut memilih warna Gumading atau warna putih kekuning- Selain warna tersebut,  warna-warna latar lain pun jadi latar batik garut, diantaranya warna biru tua dan merah tua. Warna kuning gumading garut lebih cerah jika dibandingkan dengan warna kuning gumading Cirebon. Kuningan ini  menjadi warna khas latar belakang batik garut Namun lagi-lagi warna tentu saja akan diciptakan sesuai dengan permintaan pasar bukan?

Memandang ke selembar kain dengan lukisan "Merak Ngibing", yang artinya tak lain dari Merak Menari, menggambarkan dua ekor burung merak yang cantik, yang sedang berhadap-hadapan sambil mengembangkan sayap dan bulu ekornya yang warna-warni, seperti sedang menari sudah cukup membahagiakan, dan bangga;  dia boleh dari Garut , boleh juga dari Tasik , bahkan dari Cirebon.



Selama dia di lukis bukan di print!!! (itu juga kata Ibu Aan : Batik itu bukan Print! Ucapnya berapi-api). Memikirkan pembatik yang harus terus hidup, memikirkan regenerasi penerus membatik, memikirkan bahwa batik adalah warisan budaya - ya! setuju sekali ! batik bukan print!!

1 komentar: