IG @upiurfiani


Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn't do than by the ones you did do.
So throw off the bowlines,
sail away from the safe harbour.
Catch the trade winds in your sails.
Explore. Dream. Discover.
- Mark Twain

Senin, 10 November 2014

Tenun Panawuan Garut - Terima kasih besar kepada para Pembina

dibalik alat tenun

Kami berjalan membelah sawah, menyusuri sengkedan-sengkedan, bertegur sapa dengan penduduk lokal yang berpapasan  selagi menuju lokasi Kampung  tenun di desa Panauan.
berteguran sapa dengan penduduk

Di lokasi penenunan kita menyaksikan bagaimana selembar kain di hasilkan, dimulai dari memintal benang-benang sutra, menganyamnya satu persatu sehingga jadikan selembar kain.
Add caption
Usaha tenun Panawuan ini merupakan tenunan Binaan Pemerintah, dalam hal ini  kerja sama Cita Tenun Indonesia (CTI) dan Perusahaan Gas Negara (PGN) yang diresmikan tahun 2012
Baru terasa nyata sekarang ketika mata kepala melihat hasil dan perubahan nasib yang diciptaan oleh Binaan-binaan seperti ini.
Garut dulunya sudah terkenal sebagai penghasil sutra, Industri pertama sutera alam Garut di pelopori oleh Bapak H. Aman Sahuri yang membudidayakan ulat sutera sebagai bahan sarung tenun. Dan tenun ikat Garut sudah ada sejak tahun 1960 yang menyebabkan tenun ikat beraneka warna mulai berkembang di Garut.

Namun di tahun 19802 tenun Garut memudar karena persaingan dengan Batik – khususnya Batik Garut sendiri – sehingga pengrajin tenun ini malah beralih fungsi untuk memproduksi kain katun polos putihan (kain Mori) yang menjadi bahan dasar batik.
Di tahun 2011 Komunitas Cita Tenun Indonesia (CTI) bersinergi dengan Perusahaan Gas Negara  membantu mengangkat tenun Garut ini dengan memberikan pelatihan dan pengembangan  kepada pengrajin Tenun Garut dan Majalaya dengan tujuan antara lain agar bagaimana pengrajin bisa menentukan harga yang layak dan mengetahui selera pasar.
Pembagian tugas dilakukan : Cita Tenun Indonesia (CTI) yang melatih para pengrajin, dan Perusahaan Gas Negara (PGN) bertindak sebagai “bapak angkat” atas program Kampung Tenun Garut.
Binaan terhadap  para pengrajin tenun melaui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan , “workshop” di renovasi ,penyediaan mesin dan ruang galeri guna memperlancar proses produksi, meningkatkan kualitas, serta upaya menarik minat pengunjung dan wisatawan.
Semua itu berdampak nyata dan positif bagi pengrajin tenun ini , pengrajin bangkit, dan ekonomi rakyat terbangun, salah satu buktinya adalah peningkatan harga kain tenun di Garut. Jika sebelumnya harga kain tenun Rp 150.000 per meter, saat ini harganya meningkat menjadi Rp 500.000 per meter.
memintal benang

proses pembuatan kain tenun ikat di Kampung Tenun khususnya di Sutera Alam Family masih menggunakan alat tenun tradisional yaitu alat tenun bukan mesin (ATBM). Proses pembuatannya itu terbagi kepada dua tahapan. 
kain diikat satu persatu sesuai motif
dibalik mesin pintal
Pertama adalah tahap persiapan menenun yang disebut gumingan yaitu proses pemasak benang sutera untuk menghilangkan resin yang terdapat pada benang sutera. Proses yang kedua adalah proses menenun yang dibagi menjadi dua bagian sebelum menenun, proses tersebut yaitu proses pembuatan benang lungsi dan pakan. Ide/gagasan pembuatan ornamen ini diambil dari alam sekitar di wilayah Kabupaten Garut dan yang menjadi ciri khas Garut. Dilihat dari jenis ornamen yang diteliti adalah jenis ornamen Wajik, Etnik modifikasi NTT, Bali dan 
Kalimantan, Bunga Puspa, Bunga Tapak Dara, Bunga Gambir, Bunga Kusuma, Burung Bangau, Sumping, Etnik Garut dan Ukel modifikasi Kalimantan.


Ornamen yang tampak pada Kampung Tenun adalah ornamen geometris dan non geometris serta terdapat ornamen modifikasi dari daerah lain.
 

Para penenun sutra alam Garut sekarang masih mengandalkan pasokan bahan baku yang didatangkan dari Cina , keterbatasan bahan baku ini lah yang membuat mereka tidak bisa mengakomodasi pesanan-pesanan dalam jumlah besar , katanya Saat ini pemerintah masih mempelajari agar bahan dasar benang sutera alam Garut dapat kembali diproduksi.
Saya tersentuh oleh Pembina-pembina  dalam membantu dan meningkatkan ekonomi  pengrajin, dan terharu pada dedikasi pengrajin menciptakan kain-kain cantik ini dengan proses panjang.

Amat layak bila tenun-tenun ini menjadi pilihan kita, desain dan warnanya keren, semburat NUSANTARA JELAS DISITU, dan ada perjuangan serta peluh saudara-saudara  setanah air yang  menciptakan karya-karya cantik ini.
Teringat moto: “Saya cinta buatan Indonesia”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar